Project Description

Arsitek : Akhmad Fatah Yasin, IAI
Lokasi : Batu, Jawa Timur
Luas Lahan : 82 m2
Luas Bangunan : 152 m2
Fotografer : Muhammad Chottob W. , IAI

Kadang-kadang seorang arsitek itu dibatasi dengan cukup banyak batasan oleh kliennya, namun pada saat berkesempatan merancang rumahnya sendiri, ia akan lebih bisa mengeksplorasi ideal-ideal arsitekturnya sendiri. Sebenarnya kesempatan untuk mewujudkan ideal arsitektur dalam rumah tinggal sendiri adalah kesempatan langka yang tidak hadir bagi setiap arsitek. Pada saat itu arsitektur yang seperti ini bisa menjadi suatu ekspresi yang paling bebas menurut seorang arsitek, dalam arti bebas untuk berkarya. Rumah ini barangkali adalah satu bukti dari anggapan ini. Perancangan dan perwujudannya adalah momen, dimana seorang arsitek bisa mengekspresikan visinya akan sebuah rumah yang paling mendekati ideal oleh dirinya sendiri. Bagi sang arsitek rumah itu adalah di mana ia bisa mewujudkan misinya untuk berpartisipasi dalam konsep arsitektur yang berkelanjutan. Hal ini tidak lepas dari upaya yang berkelanjutan juga untuk menggunakan bahan material yang notabene recycled dan reused. Rumah ini sendiri merupakan bangunan 2 lantai yang berdiri di atas lahan 80 M . Keinginan awalnya adalah memiliki hunian yang multifungsi, yang bisa digunakan sebagai rumah rujukan untuk keluarga besar dan sebagai tempat produktif untuk berkarya.

Dalam rangka memenuhi fungsi yang pertama sebagai sebuah ruang komunal bersama keluarga besarnya, arsitek membuat zoning lantai 1 sebagai zona keluarga yang juga banyak dipakai untuk ruang yang sifatnya publik. Lantai 1 memang cukup nyaman untuk menerima tamu sekaligus menjamu tamu yang datang ke rumah. Lantai 2 lebih pada area semi publik yang bisa diakses oleh keluarga, serta beberapa kamar tidur juga terletak pada lantai dua ini. Sedangkan lantai 3 lebih kepada area zona privat yang juga difungsikan sebagai ruang studio yang produktif.

Dalam proses pembangunannya, cukup banyak kemungkinan mempergunakan kembali berbagai material sisa, terutama sisa proyek yang masih dapat dipakai kembali, rumah ini kemudian tampil cukup unik dan berbeda dari rumah kebanyakan. Di bagian depan misalnya, kita bisa langsung melihat adanya bambu-bambu bekas, kayu bekas, kaca kaca mobil bekas yang diaplikasikan sebagai elemen fasad. Hal ini tidak hanya tampil di luar tapi juga di dalam. Banyak kayu dan bambu yang diambil dari material sisa digunakan kembali sebagai elemenelemen bangunan. Hal ini terlihat jelas misalnya pada area tangga yang menggunakan material bambu dan kayu bekas. Sementara itu botol-botol bekas minuman vitamin C juga tampak menghiasi fasad rumah bagian atas depan. Demikian juga dengan botol-botol yang ditanam pada dinding lantai 3 yang menjadikan ruangan tersebut punya kesan yang sangat unik, berkaitan dengan bias cahaya yang masuk. Hal ini ternyata juga mengurangi biaya operasional listrik untuk penerangan pada siang hari. Memanfaatkan material bekas seperti botol minuman dan bata yang sudah tidak layak untuk digunakan sebagai elemen estetika pada interior ruang keluarga dan pada dinding kolam, juga merupakan hal yang bisa kita temui dalam rumah ini. Hampir keseluruhan dinding punya finishing material ekspos yang lebih mengangkat citra asli dari material tersebut. Cara ini juga dinilai dapat meminimalkan biaya pada proses finishing.